PUNCAK BADEAN SIAP JADI DESTINASI HITS! POLIJE DAMPINGI MASYARAKAT KEMBANGKAN MANAJEMEN WISATA ALAM
Jember — Semangat masyarakat Desa Badean, Kecamatan Bangsalsari, Kabupaten Jember untuk mengembangkan potensi wisata alam di wilayahnya kini semakin kuat. Melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM), tim dosen dan mahasiswa dari Politeknik Negeri Jember (Polije) hadir memberikan pendampingan dan pelatihan bertajuk “Pelatihan Manajemen Sarana dan Prasarana Pariwisata dalam Pengembangan Wisata Alam di Desa Badean.”
Kegiatan yang berlangsung di kawasan wisata Puncak Badean ini diikuti oleh pengelola wisata, pokdarwis, karang taruna, serta perangkat desa. Fokus utama kegiatan meliputi pelatihan manajemen sarana dan prasarana wisata alam, pelatihan kuliner café lokal, serta pengenalan konsep Sapta Pesona dalam pelayanan wisata.
Ketua tim pelaksana, Degita Danur Suharsono, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengelola potensi wisata yang dimiliki Desa Badean agar lebih terarah, menarik, dan berdaya saing.
“Puncak Badean memiliki potensi luar biasa sebagai destinasi wisata alam. Namun, pengembangan fasilitas, tata kelola café, dan peningkatan kualitas pelayanan wisatawan menjadi kunci agar destinasi ini bisa naik kelas dan menjadi favorit wisatawan,” ujar Degita Danur Suharsono, S.Pd., M.Pd.
Salah satu kegiatan unggulan dalam program ini adalah pelatihan kuliner café, yang ditujukan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat dalam menciptakan menu khas berbasis bahan lokal. Pelatihan ini melibatkan dosen dan mahasiswa pariwisata yang memiliki kompetensi bidang kuliner.
Peserta diajak untuk mengenal konsep café wisata, teknik penyajian minuman dan makanan ringan yang estetik, serta manajemen pelayanan pelanggan. Tak hanya teori, peserta juga melakukan praktik langsung dalam menciptakan menu fushion berupa pasta dengan kearifan lokal.
“Kami ingin café di kawasan Puncak Badean tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga menjadi sarana promosi potensi produk lokal masyarakat. Dari bahan-bahan sederhana, bisa lahir sajian yang punya nilai jual tinggi,” tambah Purnanto, Kepala Desa Badean.
Pelatihan kuliner ini diharapkan dapat menjadi awal terbentuknya Café Wisata Puncak Badean, yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat dengan konsep ramah lingkungan dan pelayanan khas pedesaan.
Selain pelatihan kuliner, kegiatan pengabdian juga menekankan pentingnya penerapan Sapta Pesona — tujuh unsur utama dalam menciptakan suasana wisata yang menyenangkan, yaitu aman, tertib, bersih, sejuk, indah, ramah, dan kenangan.
Melalui pendekatan partisipatif, tim dosen Polije bersama warga melakukan diskusi kelompok dan pelatihan memasak. Peserta diajak untuk memahami peran penting masing-masing unsur Sapta Pesona dalam menciptakan pengalaman berwisata yang berkesan.
“Wisata yang berhasil tidak hanya soal pemandangan indah, tapi juga bagaimana pengunjung merasa nyaman, disambut dengan ramah, dan mendapatkan pelayanan yang baik. Sapta Pesona menjadi nilai dasar yang harus dipegang masyarakat,” ujar Julien Arief WIcaksono salah satu anggota tim pengabdian.
Warga Desa Badean pun menyambut antusias pelatihan ini. Menurut Purnanto, kegiatan yang dilakukan Politeknik Negeri Jember memberikan dampak positif dan membuka wawasan baru bagi masyarakat.
“Kami berterima kasih atas perhatian dari Polije. Warga kami kini semakin memahami bagaimana mengelola fasilitas wisata dan café dengan baik, serta menerapkan Sapta Pesona dalam setiap pelayanan. Ini menjadi langkah besar menuju Badean yang lebih maju di sektor pariwisata,” ungkapnya.
Kegiatan ini tidak berhenti pada tahap pelatihan. Tim pengabdian juga melakukan pendampingan lapangan dengan membantu masyarakat menata area wisata, merancang desain sederhana untuk fasilitas café, dan mengidentifikasi potensi spot foto baru yang bisa menarik wisatawan muda.
Politeknik Negeri Jember berharap program ini menjadi model pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata berkelanjutan, di mana kampus dan desa berkolaborasi untuk membangun destinasi yang tidak hanya indah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi warga.
“Kami ingin Desa Badean menjadi contoh desa wisata yang tumbuh dari bawah, dikelola masyarakatnya sendiri dengan pendampingan akademik dari kampus. Ketika masyarakat paham konsep manajemen, kebersihan, dan pelayanan, maka wisata akan berkembang secara alami dan berkelanjutan,” tutup Degita Danur Suharsono.
Dengan dukungan akademisi, masyarakat, dan pemerintah desa, Puncak Badean kini siap menjadi destinasi hits baru di Jember, mengusung konsep wisata alam yang edukatif, ramah lingkungan, dan bercita rasa lokal.