Tim Polije Latih Warga Desa Seputih Olah Kotoran Sapi dan Kulit Kopi Jadi Biobriket
JEMBER – Tim dosen dan mahasiswa Politeknik Negeri Jember (Polije) melatih warga Desa Seputih, Kecamatan Mayang, Kabupaten Jember, mengolah limbah kotoran sapi dan kulit kopi menjadi biobriket. Kegiatan yang dilaksanakan di Balai Desa Seputih tersebut terdiri atas sosialisasi pada Sabtu (29/8/2026) dan praktik pembuatan biobriket pada Sabtu (19/9/2026).
Program ini merupakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) skema Desa Binaan yang didanai PNBP Polije tahun 2026. Kegiatan tersebut bertujuan mendorong masyarakat memanfaatkan potensi limbah peternakan dan pertanian yang tersedia di lingkungan sekitar menjadi produk bernilai guna dan berpotensi meningkatkan pendapatan.
Sosialisasi dibuka oleh Kepala Desa Seputih, Suryadi Sanjaya. Kegiatan diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas peternak sapi Dusun Tetelan, perangkat desa, dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya, Suryadi menyambut baik program yang dilaksanakan oleh Polije.
“Kami berharap warga dapat memanfaatkan limbah ternak yang selama ini terbuang menjadi produk yang bernilai jual,” ujarnya.
Tim pengabdian diketuai oleh Aryanti Candra Dewi, S.Pt., M.Sc., dengan anggota Niati Ningsih, S.Pt., M.Sc., Zeni Ulma, S.ST., M.Eng., dan Dafit Ari Prasetyo, S.T., M.T. Tim tersebut memadukan keahlian dari Jurusan Peternakan dan Program Studi Teknik Energi Terbarukan serta melibatkan empat mahasiswa.
Warga Dusun Tetelan selama ini menjalankan usaha peternakan sapi sekaligus bertani kopi. Rata-rata setiap warga memelihara satu hingga dua ekor sapi yang menghasilkan sekitar 10–25 kilogram kotoran per ekor per hari. Limbah tersebut umumnya hanya ditumpuk atau dibuang. Sementara itu, kulit kopi yang dihasilkan dari proses pengupasan pascapanen juga masih sering dibakar atau dibuang sehingga belum dimanfaatkan secara optimal.
“Warga sebagian besar adalah peternak sekaligus petani kopi, jadi dua bahan baku biobriket sudah ada di lingkungan mereka sendiri. Kotoran sapi tersedia setiap hari, kulit kopi melimpah saat panen. Kami ingin warga melihat keduanya sebagai bahan baku, bukan lagi sebagai limbah yang harus dibuang,” kata Aryanti.
Selain memberikan pemahaman mengenai pemanfaatan limbah, tim pengabdian juga mengenalkan dasar-dasar pengelolaan usaha. Materi yang diberikan meliputi pencatatan biaya produksi, penghitungan harga pokok produksi, pengemasan, hingga strategi pemasaran.
Pada sesi praktik, peserta mencoba secara langsung proses pembuatan biobriket. Kotoran sapi kering dan arang kulit kopi hasil pirolisis terlebih dahulu dihaluskan, kemudian dicampur dengan perekat molases. Campuran tersebut selanjutnya dicetak menggunakan alat press hidrolik dan dikeringkan hingga menghasilkan biobriket yang siap digunakan.
Alat press hidrolik yang digunakan tidak membutuhkan listrik sehingga relatif mudah dioperasikan oleh masyarakat. Sebagai bagian dari keberlanjutan program, seperangkat alat produksi tersebut juga dihibahkan kepada mitra agar masyarakat dapat melanjutkan proses produksi secara mandiri setelah kegiatan pendampingan selesai.
Peserta tampak antusias mengikuti praktik hingga selesai. Ahmad Gozali, salah satu peternak Dusun Tetelan, mengaku baru mengetahui bahwa kotoran sapi dapat diolah menjadi bahan bakar.
“Biasanya kotoran sapi hanya kami tumpuk di dekat kandang, kalau hujan mengalir ke jalan. Ternyata cara membuat briketnya tidak sulit dan bahannya ada semua di sini. Kalau bisa dijual, lumayan untuk tambahan penghasilan,” tuturnya.
Selanjutnya, tim Polije akan melakukan pendampingan secara berkala, baik dalam proses produksi maupun pengelolaan usaha. Pendampingan juga akan mencakup pembuatan desain kemasan serta strategi pemasaran melalui media sosial dan pasar lokal.
Kepala Dusun Tetelan, Edi Kusnanto, menyampaikan terima kasih kepada tim Polije atas ilmu dan bantuan peralatan yang diberikan kepada masyarakat.
“Kami akan mengajak warga untuk terus memproduksi biobriket ini. Semoga pendampingan terus berlanjut, sehingga hasilnya benar-benar bisa menambah penghasilan warga dan lingkungan dusun menjadi lebih bersih,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, Politeknik Negeri Jember berupaya mendorong masyarakat untuk mengubah limbah peternakan dan pertanian menjadi sumber daya yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan kotoran sapi dan kulit kopi sebagai bahan baku biobriket diharapkan tidak hanya menjadi solusi terhadap persoalan limbah, tetapi juga membuka peluang usaha baru dan mendukung pengembangan ekonomi masyarakat Desa Seputih secara berkelanjutan.