Dosen dan Mahasiswa Politeknik Negeri Jember Kembangkan Lampu Perangkap Hama Tenaga Surya untuk Petani
Jember, 2 Oktober 2025 — Sebagai wujud nyata pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim dosen dan mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi Politeknik Negeri Jember (Polije) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Studi Efektivitas Lampu Perangkap Hama Padi Tenaga Surya dalam Konteks Ekologi Pertanian”.
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Klatakan, Kecamatan Tanggul, Kabupaten Jember, bekerja sama dengan Kelompok Tani Bimo Rowo, salah satu kelompok tani aktif di wilayah tersebut. Tim dosen yang terlibat meliputi Khen Dedes, S.Tr.Kom., M.T.; David Juli Ariyadi, S.Kom., M.Kom.; Akas Bagus Setiawan, S.Kom., M.MT.; Fatimatuzzahra, S.Kom., M.Kom.; dan Mujiono, S.Kom., M.Sc. Sementara itu, mahasiswa yang turut berpartisipasi adalah Saka Karna Bramasta, A. Ilham Bintang, dan Dema Adzani.
Program ini menjadi jawaban atas permasalahan klasik yang dihadapi petani padi, yakni tingginya serangan hama serangga yang berdampak signifikan terhadap produktivitas tanaman. Selama ini, petani masih bergantung pada penggunaan pestisida kimia, yang dalam jangka panjang dapat merusak ekosistem dan menurunkan kualitas tanah. Melalui pendekatan teknologi ramah lingkungan, tim pengabdian Polije menghadirkan solusi berupa lampu perangkap hama berbasis tenaga surya yang efisien, hemat energi, dan bebas pencemaran lingkungan.
Teknologi Tepat Guna untuk Pertanian Hijau
Lampu perangkap tenaga surya yang dikembangkan bekerja dengan prinsip menarik serangga menggunakan cahaya LED berintensitas tertentu pada malam hari. Serangga yang tertarik akan masuk ke dalam perangkap dan tidak dapat keluar kembali. Seluruh sistem memperoleh pasokan listrik dari panel surya, sehingga dapat beroperasi tanpa ketergantungan terhadap jaringan listrik konvensional.
Menurut Ketua Tim Pengabdian, Khen Dedes, S.Tr.Kom., M.T., teknologi ini dirancang agar mudah digunakan dan dirawat secara mandiri oleh petani.
“Kami ingin menghadirkan solusi yang aplikatif dan sesuai kebutuhan di lapangan. Petani dapat memanfaatkan energi matahari yang melimpah untuk melindungi tanaman mereka tanpa menambah beban biaya listrik,” ujarnya.
Selain dosen, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa Jurusan Teknologi Informasi sebagai bentuk pembelajaran kontekstual dalam penerapan ilmu teknologi di masyarakat. Mahasiswa berperan dalam desain perangkat, instalasi sistem tenaga surya, pengujian efektivitas alat, hingga pelatihan digital bagi petani.
Kolaborasi Ilmu dan Kearifan Lokal
Kegiatan ini tidak hanya menekankan aspek penerapan teknologi, tetapi juga memperhatikan pendekatan ekologi pertanian dan pemberdayaan masyarakat. Sebelum pemasangan alat, tim melakukan survey lapangan bersama Kelompok Tani Bimo Rowo untuk memahami pola tanam, jenis hama dominan, serta kebiasaan petani dalam pengelolaan lahan.
“Pendekatan partisipatif sangat penting agar teknologi yang kami bawa benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat. Kami tidak ingin teknologi ini hanya sekadar proyek, tetapi menjadi bagian dari perubahan perilaku petani menuju pertanian yang berkelanjutan,” tambah Khen Dedes.
Antusiasme petani terlihat dari tanggapan positif yang diberikan. Bowo, Ketua Kelompok Tani Bimo Rowo, menyampaikan apresiasinya atas kepedulian Polije.
“Kami sangat berterima kasih karena alat ini membantu kami mengurangi ketergantungan pada pestisida. Sekarang kami bisa menjaga hasil panen tanpa merusak tanah dan lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kelompoknya tengah memantau efektivitas alat terhadap penurunan populasi hama wereng dan penggerek batang, yang selama ini menjadi ancaman utama bagi petani padi.
Integrasi Teknologi Informasi dalam Dunia Pertanian
Meskipun berasal dari Jurusan Teknologi Informasi, tim dosen Polije berupaya memperluas penerapan bidang keilmuan mereka agar memberi dampak lintas sektor. Salah satunya melalui pengembangan sistem monitoring berbasis sensor yang mampu merekam jumlah serangga terperangkap setiap malam. Data tersebut nantinya dapat diolah menjadi informasi digital untuk memantau tren serangan hama secara real-time.
“Dengan integrasi teknologi informasi, petani tidak hanya menggunakan alat ini sebagai perangkap, tetapi juga sebagai sumber data yang membantu pengambilan keputusan,” jelas Akas Bagus Setiawan, S.Kom., M.MT., salah satu dosen pendamping.
Mahasiswa yang terlibat juga memperoleh pengalaman berharga melalui kegiatan ini — mulai dari penerapan teori ke lapangan, penguatan kemampuan komunikasi, hingga pengembangan empati sosial.
Dampak dan Harapan ke Depan
Kegiatan pengabdian ini diharapkan menjadi langkah awal pengembangan ekosistem pertanian berbasis teknologi informasi di wilayah pedesaan Kabupaten Jember. Tim berencana melakukan evaluasi efektivitas alat selama satu musim tanam, dan hasilnya akan digunakan untuk penyempurnaan desain perangkat ke depan.
“Politeknik Negeri Jember berkomitmen untuk terus mendukung inovasi teknologi tepat guna yang berpihak pada masyarakat, khususnya petani kecil. Melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan kelompok tani, kami yakin ketahanan pangan dapat dibangun dari desa,” pungkas Khen Dedes.
Dengan hadirnya inovasi lampu perangkap hama tenaga surya ini, diharapkan petani di Desa Klatakan dapat menikmati hasil panen yang lebih optimal, menjaga lingkungan sawah tetap sehat, serta meningkatkan efisiensi biaya produksi — sejalan dengan semangat pertanian hijau dan pembangunan berkelanjutan.