IoT Deteksi Sumbatan Aeroponik Tingkatkan Efisiensi Panen Mahasiswa di Polije

Di tengah tantangan efisiensi pertanian modern, Politeknik Negeri Jember (Polije) menghadirkan inovasi teknologi berbasis Internet of Things (IoT). Melalui penelitian bertajuk “Perancangan dan Implementasi Sistem Deteksi Sumbatan Otomatis pada Greenhouse dengan Instalasi Aeroponik Berbasis IoT”, tim peneliti berhasil merancang alat pendeteksi sumbatan nutrisi yang dapat memantau kondisi instalasi secara real-time.

Penelitian yang dipimpin oleh Dimas Sujono Putro, A.Md, melibatkan enam anggota dari Laboratorium Teknik Tata Air. Riset dilaksanakan sejak 1 Juli hingga 29 November 2025 dengan dukungan dana Rp10 juta dari PNBP Polije.

“Aeroponik memiliki keunggulan efisiensi air dan pertumbuhan cepat. Namun, penyumbatan pada nozzle sering menjadi masalah serius yang bisa berakibat pada kegagalan panen,” jelas Dimas. “Dengan sistem deteksi otomatis, kendala ini bisa diatasi sejak dini.”

Sistem ini mengandalkan kombinasi sensor deteksi sumbatan, dan mikrokontroler ESP32. Data dikirimkan ke aplikasi Blynk yang dapat diakses melalui ponsel atau komputer. Jika aliran nutrisi terganggu, notifikasi “Sumbat Nutrisi Kurang” akan muncul dengan rata-rata waktu respons 2,5 detik.

Hasil pengujian menunjukkan tingkat akurasi deteksi sumbatan mencapai 70 hingga 80 persen dengan stabilitas tekanan air 0,2 bar. Pada uji coba tanaman selada, sistem ini terbukti mempercepat masa panen menjadi 28 hari setelah tanam dengan bobot rata-rata 100–200 gram per batang.

Lebih dari sekadar solusi teknis, alat ini juga berperan penting dalam pendidikan vokasi. Mahasiswa dapat mempelajari langsung bagaimana sensor bekerja, bagaimana data dikirimkan melalui jaringan IoT, dan bagaimana teknologi dapat diterapkan dalam pertanian presisi. “Sistem ini menjadi media belajar yang inovatif, mendukung tridharma perguruan tinggi,” tambah Audina Uffila Dewi, salah satu anggota tim.

Ke depan, peneliti merencanakan pengembangan lebih lanjut, termasuk integrasi sistem monitoring berbasis cloud, perluasan implementasi di greenhouse skala industri, hingga pengajuan paten. Target akhirnya adalah menjadikan sistem ini sebagai educational kit sekaligus produk komersial yang bisa digunakan secara luas.

Inovasi ini sejalan dengan tren global pertanian presisi yang memanfaatkan teknologi digital. Dengan kemampuan mendeteksi masalah lebih awal, sistem IoT diharapkan dapat mengurangi risiko gagal panen sekaligus mendukung ketahanan pangan berkelanjutan.