Kolaborasi Dosen JTI Polije dan K-SULI Hadirkan Kios Pintar Bahasa Isyarat

Dalam upaya meningkatkan keterjangkauan layanan di sektor UMKM, tim dosen dari Jurusan Teknologi Informasi (JTI) Politeknik Negeri Jember (Polije) berkolaborasi dengan Kedai Susu Tuli (K-SULI) meluncurkan sebuah inovasi berbasis teknologi: Kios-K pintar dengan kemampuan deteksi bahasa isyarat. Inovasi ini tidak hanya mendukung sistem self-service modern, tetapi juga menjadi solusi inklusif yang memperhatikan kebutuhan teman tuli dalam mengakses layanan publik secara mandiri.

K-SULI, yang dikenal sebagai kedai yang dikelola oleh komunitas tuli, telah lama menjadi simbol pemberdayaan dan kemandirian difabel. Namun, dalam praktiknya, komunikasi antara pelanggan dengan pegawai yang tuli masih menjadi tantangan, terutama bagi pelanggan yang tidak memahami bahasa isyarat. Menjawab tantangan tersebut, tim dosen JTI Polije yang terdiri dari berbagai keahlian mulai dari kecerdasan buatan, pengolahan citra digital, hingga pengembangan perangkat lunak—merancang sistem interaktif berbasis deteksi hand gesture dan pengenalan Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).

Melalui kolaborasi ini, lahirlah Kios-K, sebuah mesin layanan mandiri (self-service kiosk) yang dilengkapi dengan kamera dan sistem kecerdasan buatan untuk mengenali gestur tangan pelanggan yang menggunakan SIBI. Sistem ini kemudian menerjemahkan gestur tersebut ke dalam perintah digital yang dapat dipahami oleh sistem pemesanan di kedai. Sebaliknya, kios ini juga dapat menampilkan tanggapan dalam bentuk teks, sehingga komunikasi dua arah dapat terwujud tanpa hambatan.

Menurut Ketua Pengabdian, I Gede Wiryawan, S.Kom., M.Kom., pengembangan Kios-K ini merupakan bagian dari komitmen dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat berbasis teknologi tepat guna.

“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi bisa menjembatani kesenjangan komunikasi, terutama bagi kelompok difabel yang selama ini masih sering terpinggirkan dari sistem layanan digital,” ujarnya.

Proses pelatihan dan pengujian dilakukan secara intensif untuk memastikan akurasi dan kecepatan sistem dalam mengenali gestur secara real-time. Selain itu, sistem dirancang agar user-friendly dan dapat digunakan oleh siapa saja, termasuk pengguna awam atau pelanggan dengan disabilitas.

Pemilik Kedai K-SULI, Bapak Moko, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini menjadi peluang bagi komunitas tuli, khususnya dalam konteks pemberdayaan ekonomi dan mengenalkan bahasa isyarat kepada orang awam.

“Kami sangat senang karena ini bukan sekadar alat, tapi bukti nyata bahwa inklusivitas bisa dihadirkan lewat inovasi. Pelanggan yang tidak bisa bahasa isyarat kini tetap bisa berinteraksi secara setara dengan kami,” katanya.

Lebih dari sekadar alat bantu komunikasi, Kios-K juga diharapkan menjadi role model bagi pelaku UMKM lain yang ingin menerapkan prinsip inklusif dan teknologi ramah difabel. Dalam jangka panjang, tim pengembang berharap dapat memperluas jangkauan implementasi sistem ini ke layanan publik lainnya, seperti rumah sakit, kantor pemerintahan dan lain sebagainya.

Ke depan, tim pengabdian merencanakan untuk terus mengembangkan fitur-fitur tambahan dalam Kios-K, termasuk integrasi dengan sistem pembayaran digital, serta perluasan basis data bahasa isyarat untuk mencakup dialek lokal atau regional. Dengan semangat kolaboratif, proyek ini menjadi contoh nyata bahwa inklusi sosial dan kemajuan teknologi bisa berjalan seiring, membuka ruang baru bagi difabel untuk berpartisipasi aktif dalam kehidupan sosial dan ekonomi.