Kolaborasi Tim Pengabdian POLIJE Dengan Desa Curahlele Melalui Pemberdayaan PKK Desa Curahlele, Kecamatan Balung Dalam Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga Menjadi Pupuk Organik Yang Ramah Lingkungan.
Jember – Limbah rumah tangga berupa sampah organik seperti sisa sayur, nasi, kulit buah, air bekas cucian, hingga kertas bekas seringkali hanya dibuang begitu saja. Padahal, jika tidak dikelola dengan baik, sampah organik tersebut dapat menimbulkan pencemaran lingkungan.
Desa Curahlele yang berjarak sekitar 21 km di selatan Kota Jember, Kecamatan Balung, memiliki potensi besar dalam pengelolaan limbah rumah tangga. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024, jumlah penduduk di desa ini mencapai 6.572 jiwa dengan rata-rata pertumbuhan 1,9% per tahun, terdiri atas 1.831 kepala keluarga. Dengan jumlah keluarga yang cukup besar, potensi sampah organik yang dihasilkan juga tinggi.
Melihat kondisi tersebut, tim dosen Politeknik Negeri Jember dari berbagai jurusan melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) di Desa Curahlele. Tim ini terdiri dari Ariesia Ayuning Gemaputri dan Ida Adha Anrosana (Jurusan Manajemen Agribisnis), Dwi Rahmawati (Jurusan Produksi Pertanian), Arisanty Nur Setia Restuti, serta Adhiningsih Yuliati (Jurusan Kesehatan). Mereka juga melibatkan tiga mahasiswa Jurusan Manajemen Agribisnis. Sasaran utama kegiatan adalah ibu-ibu anggota PKK Desa Curahlele sebagai langkah awal menuju terbentuknya usaha desa berbasis pupuk organik.
Ketua PKK Desa Curahlele, Ma’ratus Sholihah Abdul Hamid, menyambut baik kegiatan ini. “Selain memberdayakan anggota PKK yang sebagian besar ibu rumah tangga, pelatihan ini juga membantu mengurangi sampah organik agar bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Pupuk yang dihasilkan nantinya bisa dipakai sendiri untuk menanam sayur atau buah, bahkan bisa dijual untuk menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.
Kegiatan PkM dilakukan bertahap. Pada Juli 2025 dilaksanakan penyuluhan mengenai pengelolaan limbah rumah tangga, dilanjutkan pelatihan pembuatan pupuk organik dan implementasi di lahan pada Agustus 2025. Tahap akhir berupa pendampingan pengemasan, manajemen usaha sederhana, serta pemberian materi tentang pentingnya gizi makanan organik.
Antusiasme peserta sangat tinggi. Mereka bahkan membawa sendiri bahan organik seperti kulit buah, sayur, air cucian beras, hingga kulit telur. “Saya tidak menyangka kalau kulit sayur dan buah bisa dijadikan pupuk. Nantinya pupuk ini bisa saya pakai untuk menanam cabai karena harganya sedang mahal, jadi bisa lebih hemat uang belanja,” ungkap Wafi’, salah satu anggota PKK peserta pelatihan.
Ketua tim PkM, Ariesia Ayuning, berharap kegiatan ini berlanjut dan memberikan dampak lebih luas. “Kami berharap penyuluhan dan pendampingan pemanfaatan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik tidak berhenti di sini, melainkan mampu menginspirasi masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan,” pungkasnya.