Polije Perkuat Kapasitas Kader Posyandu melalui Produksi Cookies Kelobu Berbasis Pangan Lokal

Polije Perkuat Kapasitas Kader Posyandu melalui Produksi Cookies Kelobu Berbasis Pangan Lokal

SIDOARJO – Politeknik Negeri Jember (Polije) memperkuat kapasitas kader Posyandu Kelurahan Sidokare, Kabupaten Sidoarjo, melalui program pemberdayaan masyarakat berbasis pemanfaatan pangan lokal bergizi. Program tersebut dilakukan melalui pelatihan produksi dan pengemasan Cookies Kelobu, yaitu produk pangan berbahan tepung mocaf, daun kelor, dan ikan gabus yang dikembangkan sebagai pangan tambahan lokal pendukung pencegahan stunting.

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan mengintegrasikan kegiatan pemberdayaan kader Posyandu dengan penguatan fungsi Teaching Factory (TEFA) Agribisnis PSDKU Sidoarjo. Pendekatan tersebut diarahkan agar pengetahuan dan keterampilan yang diberikan kepada masyarakat tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat dilanjutkan melalui praktik, pendampingan, dan penerapan SOP produksi secara berkelanjutan.

Stunting masih menjadi salah satu permasalahan gizi yang membutuhkan upaya pencegahan secara berkelanjutan di tingkat masyarakat. Berdasarkan data SSGI 2024, prevalensi stunting nasional tercatat sebesar 19,8 persen, Provinsi Jawa Timur sebesar 14,7 persen, sedangkan Kabupaten Sidoarjo sebesar 6,8 persen. Meskipun angka tersebut menunjukkan kondisi Sidoarjo yang lebih rendah dibandingkan angka nasional dan provinsi, upaya pencegahan tetap perlu diperkuat melalui keterlibatan keluarga, kader Posyandu, dan masyarakat.

Kelurahan Sidokare menjadi salah satu lokasi kegiatan karena memiliki kader Posyandu yang aktif dalam kegiatan pelayanan masyarakat. Namun, masih terdapat kebutuhan untuk meningkatkan keterampilan kader dalam memanfaatkan bahan pangan lokal bergizi menjadi produk pangan tambahan yang praktis dan mudah diterapkan. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim Polije untuk mengembangkan kegiatan pelatihan produksi dan pengemasan Cookies Kelobu.

Di sisi lain, Laboratorium Kewirausahaan PSDKU Sidoarjo yang dikembangkan sebagai TEFA Agribisnis memiliki potensi untuk menjadi ruang pembelajaran dan pendampingan yang menghubungkan pengetahuan vokasi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui program ini, fungsi TEFA diperkuat tidak hanya sebagai sarana pembelajaran mahasiswa, tetapi juga sebagai tempat praktik, penyusunan SOP, dan pendampingan teknis bagi mitra masyarakat.

Kegiatan diawali dengan persiapan dan analisis kebutuhan mitra untuk mengetahui kondisi, pengetahuan, serta keterampilan kader Posyandu terkait pangan tambahan lokal. Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar dalam menentukan materi pelatihan, metode praktik, kebutuhan peralatan, serta tahapan produksi Cookies Kelobu.

Cookies Kelobu dikembangkan dengan memanfaatkan tiga bahan utama, yaitu tepung mocaf, daun kelor, dan ikan gabus. Pemanfaatan bahan tersebut menjadi bagian dari upaya diversifikasi pangan lokal sekaligus memberikan alternatif produk pangan tambahan yang dapat diperkenalkan kepada masyarakat.

Pelatihan produksi dilakukan secara langsung melalui penyampaian materi, demonstrasi, praktik, simulasi, dan pendampingan. Kader Posyandu tidak hanya mendapatkan penjelasan mengenai bahan dan formulasi produk, tetapi juga dilatih melakukan tahapan produksi mulai dari persiapan bahan, penimbangan, pencampuran adonan, pencetakan, pemanggangan, pendinginan, hingga pemeriksaan mutu produk.

Dalam proses pelatihan, aspek kebersihan dan sanitasi juga menjadi perhatian. Kader diberikan pemahaman mengenai pentingnya kebersihan bahan, peralatan, area produksi, serta personal hygiene untuk mendukung keamanan dan mutu produk yang dihasilkan.

Selain produksi, program juga memberikan pelatihan mengenai pengemasan dan pelabelan Cookies Kelobu. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan kader dalam menyajikan produk secara lebih higienis, informatif, dan menarik. Pengemasan tidak hanya dipandang sebagai tahap akhir produksi, tetapi juga sebagai bagian dari upaya menjaga mutu dan memberikan informasi kepada konsumen.

Tim pengabdian juga menyusun SOP produksi Cookies Kelobu sebagai panduan sederhana yang dapat digunakan dalam praktik selanjutnya. SOP tersebut menjadi salah satu bentuk penguatan fungsi TEFA Agribisnis karena dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran mahasiswa sekaligus pedoman teknis dalam kegiatan produksi dan pendampingan masyarakat.

"Program ini tidak hanya diarahkan untuk memberikan keterampilan membuat produk, tetapi juga bagaimana kader dapat memahami pemanfaatan pangan lokal, menerapkan proses produksi yang baik, serta memiliki pedoman yang dapat digunakan kembali secara mandiri," ujar tim pelaksana kegiatan.

Keterlibatan mahasiswa dalam program juga menjadi bagian penting dari pendekatan TEFA. Mahasiswa dapat berperan dalam pendampingan teknis, membantu proses praktik produksi, melakukan dokumentasi, serta mendukung evaluasi hasil kegiatan. Dengan demikian, terjadi hubungan antara pembelajaran vokasi di perguruan tinggi dengan penerapan pengetahuan secara langsung di masyarakat.

Evaluasi program dilakukan untuk mengetahui perubahan pengetahuan dan keterampilan peserta setelah mengikuti kegiatan. Evaluasi mencakup pemahaman mengenai pangan tambahan lokal, proses produksi, hasil praktik pembuatan Cookies Kelobu, serta kemampuan peserta dalam melakukan pengemasan dan pelabelan produk.

Melalui program tersebut, diharapkan kader Posyandu Kelurahan Sidokare memiliki peningkatan kapasitas dalam memanfaatkan bahan pangan lokal menjadi produk pangan tambahan. Selain itu, tersusunnya SOP produksi dan pengemasan diharapkan dapat mendukung keberlanjutan kegiatan serta memperkuat pemanfaatan TEFA Agribisnis PSDKU Sidoarjo sebagai pusat pembelajaran dan pendampingan berbasis kebutuhan masyarakat.

Program ini juga menjadi bagian dari upaya Polije dalam menghilirkan pengetahuan dan teknologi bidang pangan serta agribisnis ke dalam praktik nyata. Integrasi antara pangan lokal, pemberdayaan kader Posyandu, dan TEFA Agribisnis diharapkan dapat menjadi model pendampingan yang dapat dikembangkan dan direplikasi dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat lainnya.

Tahap berikutnya diarahkan pada pendampingan dan monitoring untuk melihat penerapan keterampilan yang telah diperoleh, penggunaan SOP, serta keberlanjutan produksi Cookies Kelobu. Hasil evaluasi akan menjadi dasar untuk memperbaiki proses produksi, pengemasan, dan model pendampingan sehingga program dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi mitra.