Sentuhan Digital Tim Dosen Polije, Tambak Udang Vaname Purwoharjo Tembus Pasar Bisnis

PURWOHARJO – Ketergantungan pada tengkulak dengan harga jual yang fluktuatif kini menjadi cerita lalu bagi UMKM Bahari Samudra. Berkat program pengabdian dari tim dosen Politeknik Negeri Jember (Polije), tambak budidaya udang vaname yang berlokasi di Purwoharjo, Jawa Tengah ini berhasil melakukan transformasi digital, memotong rantai pasok, dan menjangkau pembeli bisnis secara langsung. Program pengabdian ini berfokus pada perancangan website sebagai katalog digital profesional dan penerapan strategi digital marketing yang menyasar segmen Business-to-Business (B2B). Tujuannya adalah memberdayakan petambak udang untuk memiliki kanal penjualan sendiri, meningkatkan posisi tawar, dan meraih margin keuntungan yang lebih baik. Inovasi ini dipimpin oleh tim akademisi dari Politeknik Negeri Jember yang terdiri dari Ketua Wahyu Kurnia Dewanto, S.Kom, M.T., beserta anggota Dhony Manggala Putra, S.E., M.M., Mochammad Rifki Ulil Albaab, S.T., M.Tr.T., Muhammad Hafidh Firmansyah, S.Tr.Kom., M.Sc., dan Prisilia Angel Tantri, SE., M.M. Mitra program adalah Iqbal, pemilik UMKM Bahari Samudra, sebuah usaha budidaya tambak udang vaname di Purwoharjo. Program ini dieksekusi secara komprehensif selama periode enam bulan, yang berlangsung dari Juli hingga Desember 2025, mencakup semua fase mulai dari analisis, pengembangan, hingga implementasi dan pendampingan.

 

Seluruh aktivitas program dipusatkan di lokasi tambak UMKM Bahari Samudra di Kecamatan Purwoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Program ini sendiri merupakan bagian dari skema Hibah Pengabdian Masyarakat Internal, gambar 2 menunjukkan tim pengabdian dan pemilik tambak .

Sebelum program ini, Iqbal menjual hasil panennya hampir secara eksklusif kepada tengkulak atau pengepul lokal. Hal ini menyebabkan harga jual sangat bergantung pada perantara dan petambak tidak memiliki kendali atas harga di pasar. "Dulu, setiap panen kami hanya bisa pasrah dengan harga yang diberikan pengepul. Mau untung atau rugi, ya diterima saja," ungkap Iqbal. Ketiadaan akses pasar langsung menjadi penghambat utama pertumbuhan bisnisnya. Mengatasi masalah tersebut, tim Polije menerapkan pendekatan strategis. Tahap pertama adalah membangun identitas digital melalui sebuah website profesional. Situs web ini berfungsi sebagai etalase B2B yang menampilkan profil tambak, standar operasional budidaya, galeri foto produk udang vaname berkualitas, serta informasi detail mengenai ukuran (size) dan sistem pemesanan untuk partai besar.

Langkah kedua adalah implementasi digital marketing. Tim memberikan pelatihan mengenai cara menjangkau calon pembeli potensial seperti restoran, hotel, katering, dan eksportir melalui platform digital. Strategi ini mencakup optimasi Google My Business agar mudah ditemukan, serta penggunaan media sosial untuk membangun citra sebagai pemasok udang vaname terpercaya. Hasilnya terbukti efektif. Melalui website tersebut, UMKM Bahari Samudra mulai menerima permintaan langsung dari pengusaha kuliner di kota-kota besar. Iqbal kini dapat bernegosiasi harga secara langsung, yang berdampak pada peningkatan pendapatan bersih secara signifikan."Kami ingin menunjukkan bahwa digitalisasi bukan hanya untuk produk jadi, tapi juga sangat relevan untuk sektor hulu seperti agribisnis. Dengan memotong mata rantai yang tidak efisien, petambak bisa menjadi lebih berdaulat dan sejahtera," ujar Rifki Ulil Albaab, salah satu anggota tim pengabdian PNBP.