Transformasi Digital Posyandu Lansia di Ngawi: Inovasi SIMKES-Mandiri Pangkas Beban Administratif dan Amankan Rekam Medis

Ngawi, 21 September 2026 — Kabupaten Ngawi, yang berada di bagian barat Provinsi Jawa Timur, dikenal memiliki jaringan kader Posyandu yang aktif dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Tingginya kesadaran masyarakat, khususnya kelompok lanjut usia (lansia), untuk mengikuti pelayanan kesehatan berbasis komunitas turut mendorong peningkatan kebutuhan akan pencatatan data kesehatan yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kelompok lansia membutuhkan pemantauan kesehatan secara berkala, terutama terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, dan hiperkolesterolemia. Selama ini, hasil pemeriksaan seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol masih banyak dicatat menggunakan kertas atau buku yang berisiko hilang, rusak, maupun tercecer.

Permasalahan tersebut tidak hanya menyulitkan lansia dalam menelusuri riwayat kesehatannya, tetapi juga menambah beban administrasi kader Posyandu yang harus melakukan rekapitulasi dan pelaporan kepada Puskesmas secara manual.

Menjawab kebutuhan tersebut, Politeknik Negeri Jember (Polije) melalui Kampus 5 Ngawi menerjunkan tim pengabdian kepada masyarakat untuk menghadirkan inovasi teknologi berupa Sistem Informasi Monitoring Kesehatan (SIMKES) Mandiri.

Program digitalisasi yang didanai melalui skema Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) TeFa sumber dana PNBP 2026 tersebut dipimpin oleh Budi Fajar Supriyanto sebagai inovator sistem, dengan anggota tim Nesa Ayu Murthisari Putri, Getta Hayyuning Mangesti, Elsa Tursina, dan Riska Fajar Fatony.

Dalam implementasinya, tim akademisi Polije menggandeng Rintisan TeFa MIK PSDKU Ngawi serta Puskesmas Ngawi untuk menerapkan aplikasi berbasis web bernama SERASI (Sistem Elektronik Rekam & Skrining).

Aplikasi SERASI dirancang dengan konsep sederhana, ringan, dan ramah pengguna sehingga dapat dioperasikan oleh kader Posyandu maupun lansia. Melalui sistem tersebut, data hasil pemeriksaan kesehatan dapat dicatat secara digital dan terdokumentasi secara real-time.

Implementasi Cepat, Jangkau 225 Lansia

Penerapan inovasi tersebut telah diuji secara langsung melalui kegiatan safari pelayanan kesehatan digital selama lima hari pada 10 hingga 18 Agustus 2026. Kegiatan menyasar lima Posyandu di Kabupaten Ngawi, yaitu Posyandu Eka Mulya 1 (Karanggeneng 1), Posyandu Eka Mulya 2, Posyandu Tri Mulyo Kranggan, Posyandu Catur Mulyo Kauman, dan Posyandu Dwi Mulyo Bugisan.

Secara keseluruhan, penerapan sistem berhasil melakukan pendataan kesehatan secara digital terhadap 225 lansia.

Melalui aplikasi SERASI, peserta kini memiliki rekam jejak kesehatan digital yang dapat dipantau melalui perangkat ponsel. Sistem juga dilengkapi indikator warna dan rekomendasi pola hidup sehat yang dirancang agar informasi kesehatan lebih mudah dipahami oleh pengguna.

Tidak hanya memberikan manfaat bagi lansia, digitalisasi ini juga membantu kader Posyandu dalam menjalankan tugas administrasi. Konsep single input memungkinkan data yang dimasukkan satu kali ke dalam sistem kemudian dirangkum secara otomatis menjadi laporan yang dapat digunakan untuk kebutuhan pelaporan kepada Puskesmas mitra.

Penerapan sistem tersebut juga ditargetkan dapat menekan risiko kehilangan atau kerusakan data pemeriksaan hingga lebih dari 80 persen dibandingkan dengan metode pencatatan berbasis kertas.

Program ini memiliki sejumlah target capaian, di antaranya minimal 80 persen kader Posyandu mampu mengoperasikan aplikasi secara mandiri serta sedikitnya 70 persen lansia peserta mampu memahami informasi riwayat kesehatan mereka sebagai salah satu panduan dalam menjaga pola hidup sehat.

Teknologi untuk Kemandirian Lansia

Kehadiran SIMKES-Mandiri di Ngawi tidak semata-mata berbicara mengenai penerapan teknologi digital. Program ini menjadi bagian dari upaya sivitas akademika Polije Kampus 5 Ngawi untuk menghadirkan solusi yang dekat dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mendukung pengelolaan informasi kesehatan lansia.

Melalui digitalisasi pencatatan kesehatan, lansia diharapkan dapat memiliki akses yang lebih mudah terhadap riwayat pemeriksaan mereka, sementara kader Posyandu memperoleh dukungan sistem yang dapat mengurangi pekerjaan administratif dan membantu proses pelaporan.

Inovasi tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana teknologi dapat diterapkan hingga tingkat pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Dari Kabupaten Ngawi, langkah digitalisasi ini diharapkan dapat menjadi bagian dari penguatan layanan Posyandu yang lebih tertata, terdokumentasi, dan berorientasi pada kemandirian masyarakat.

Bagi para lansia di Ngawi, transformasi tersebut bukan sekadar perubahan dari catatan kertas menjadi data digital, tetapi merupakan upaya untuk menjaga agar informasi kesehatan tetap tersedia dan dapat dimanfaatkan dalam perjalanan menjaga kesehatan di masa tua secara mandiri dan bermartabat.